Senin, 08 September 2008

tak apakah jika aku menyentuhnya?

ku lihat

di ujung ranting itu, seekor kupu kupu hinggap dengan manisnya

begitu rupawan dengan pesona warna warni

dan ku tahu

demikian tertawannya aku terhadapnya

entahlah

pesonanya yang demikian memikat

ataukah akalku yg tak lagi di tempat



tapi aku takut

aku takut ia bahkan akan lari terbirit

menjauhiku

pergi dengan rasa jijiknya

ketika melihat buruk rupaku



aku takut

pun ketika ia hendak tinggal

ketika aku mendekat

tangan kasarku akan melukainya

merosakkan keindahan campuran warnanya

atau bahkan mematahkan sayap indahnya



tidak...

aku akan membiarkannya tetap demikian

biarkan ia tetap di sana

terjaga



dan aku

aku akan hanya memandanginya lekat

dari arah sini

kurasa cukup

meski inginku menyentuhnya demikian besar

aku hanya tak ingin ia pergi

atau terluka dengan tanganku

Jumat, 05 September 2008

bolehkah aku merindu mu?

desir sayup suaramu melantun merdu

mengantarkan bait bait suci di hamparanku

syahdu di setiap nafas maknanya

melagu tergugu aku di akhirnya



"Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan"

berulang dalam syairmu

bersama malam yang melarut

menanti fajar menyingsing pagi



ah kala itu ...

aku kini sedang mengenangnya

dan aku merindu

nyanyian bait baitmu

hanya dalam mimpi semuku saja

bolehkah?

.............

terdiam aku di sini

terpaku aku menepi

melamun sepi

sendiri

hanya desau angin menghembus pipi

lembut dalam sunyi



kuarahkan jiwaku pada langit

kelam dingin menggigit

larutkan ku dalam pahit

tusukan luka yang tak berjahit



ah, bintangku meredup

menghilang dalam sekedip

menjauh dari pijar kerlip

Kamis, 04 September 2008

........rindukah..........

rasanya sudah beberapa saat aku tidak menyinggungnya

rasanya telah lewat beberapa waktu aku tidak menyentuhnya

apa aku rindu

ah...

atau aku hanya merasa sepi?

h m m...

tapi aku masih menikmati ...

meski cinta ingin kembali ...

aku masih suka sendiri ....

Rabu, 03 September 2008

...akhirnya ia pun hadir ...

kemarin aku masih menanti hadirnya

dengan cemas

bukan karena ia telah terlambat datang

tapi cemas kalau ia datang di saat tidak tepat

ketika matahari telah jauh tinggi atau nyaris terbenam





tapi

akhirnya

hari ini ia pun datang menyapaku

setelah beribu kesakitan mendera

seperti ribuan jarum yang menghunjam dalam

menusuk jatuh pada lambungku

perih melilit nyeri





dan aku pun tidak menikmati Ramadhan hari ini

tepat di dentang ke sembilan

meski setetespun belum kuteguk

secuilpun belum ku kenyam





ah... ternyata hari ini aku diijinkan beristirahat

meski kecewa melanda raga

tapi sedikit syukur ku menyusup rasa





ah... semoga sabarku masih mengajariku

menahan luapan emosi

yang kadang membabi buta

menelan logika



ah... semoga pikirku masih mampu

selalu mencoba dan meraba

jarak kebaikan yang tertera

sementara aku berlena jeda